scitrek.org – Queenie: Menderita Pengen Jadi 1 Ratu Terus Deh! Ada satu sisi dalam diri manusia yang jarang diakui dengan jujur: keinginan untuk berada di puncak dan tidak pernah turun lagi. Bukan sekadar menang sekali, tapi terus berdiri sebagai yang tertinggi balap bebek. Di balik ambisi itu, sering tersembunyi rasa takut kehilangan, trauma kekalahan, dan tekanan untuk selalu terlihat kuat. Di sinilah kisah “Queenie: Menderita Pengen Jadi 1 Ratu Terus Deh!” menemukan nadinya.
Cerita ini bukan sekadar tentang tahta. Ini tentang obsesi, tentang luka yang tidak pernah sembuh, dan tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang ingin terus menjadi ratu tanpa henti.
Queenie: Menderita Pengen Jadi 1 Ratu Terus Deh!
Queenie tidak pernah benar-benar menikmati momen saat ia berada di atas. Setiap kemenangan justru melahirkan ketakutan baru. Takut tergeser. Takut dilupakan. Takut dianggap biasa saja.
Awalnya, ia hanya ingin membuktikan diri. Ia tumbuh di lingkungan yang keras, penuh perbandingan, penuh tuntutan. Saat orang lain dipuji, namanya jarang disebut. Saat orang lain bersinar, ia berdiri di bayangan. Dari situlah muncul tekad: suatu hari nanti, ia akan berdiri paling depan.
Namun, saat akhirnya ia sampai di puncak, kenyataan tidak seindah bayangannya. Gelar ratu bukan sekadar mahkota. Itu adalah beban.
Ambisi yang Tidak Pernah Puas
Ambisi bisa menjadi bahan bakar yang kuat. Tapi pada Queenie, ambisi berubah menjadi tekanan yang tidak ada jedanya.
Setiap hari ia bangun dengan satu pikiran: jangan sampai kalah. Ia mulai melihat semua orang sebagai ancaman. Teman menjadi pesaing. Dukungan terasa seperti kepura-puraan. Senyum orang lain terlihat seperti tantangan tersembunyi.
Alih-alih menikmati pencapaian, ia sibuk mempertahankan posisi. Ia mengorbankan waktu, istirahat, bahkan hubungan dengan orang-orang terdekat. Semua demi satu tujuan: tetap jadi nomor satu.
Ketakutan Kehilangan Tahta
Yang tidak ia sadari, rasa takut itulah yang perlahan menggerogoti dirinya.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula rasa cemas untuk jatuh. Queenie mulai sulit tidur. Ia merasa harus selalu tampil sempurna. Kesalahan kecil terasa seperti bencana besar. Kritik kecil terdengar seperti ancaman serius.
Ia tidak lagi bergerak karena semangat, melainkan karena panik. Bukan lagi ingin berkembang, melainkan takut tertinggal.
melainkan “mengapa harus terus jadi ratu?”
Luka yang Tidak Pernah Selesai
Obsesi Queenie sebenarnya bukan tentang tahta.
Dulu ia sering diremehkan. Dulu ia sering merasa tidak cukup. Saat akhirnya ia berhasil, ia berpikir semua rasa sakit itu akan hilang. Tapi kenyataannya, gelar tidak menyembuhkan trauma.
Justru, semakin ia berada di atas, semakin besar tekanan untuk membuktikan bahwa ia pantas. Ia terjebak dalam lingkaran pembuktian tanpa akhir.
Standar yang Terlalu Tinggi

Queenie menetapkan standar yang bahkan manusia biasa sulit capai. Ia menuntut dirinya untuk selalu unggul, selalu dipuji, selalu dipilih. Tidak ada ruang untuk lelah.
Masalahnya, manusia bukan mesin. Ada hari ketika energi turun. Ada momen ketika hasil tidak sesuai harapan. Tapi dalam kamus Queenie, gagal bukan pilihan.
Setiap kegagalan kecil langsung ia anggap sebagai ancaman terhadap identitasnya. Ia tidak memisahkan antara hasil dan harga diri. Jika kalah, berarti ia tidak berharga. Pola pikir inilah yang membuat penderitaan itu semakin dalam.
Antara Kekuasaan dan Kesepian
Menjadi ratu terdengar megah. Namun, posisi tertinggi sering kali terasa sunyi.
Semakin Queenie fokus mempertahankan tahta, semakin jauh ia dari orang-orang yang tulus. Ia sulit percaya. Ia sulit membuka diri. Ia selalu waspada.
Hubungan yang ia bangun lebih banyak berdasarkan kepentingan dibanding ketulusan. Lama-kelamaan, ia merasa sendirian. Anehnya, ia tetap memilih bertahan di posisi itu daripada turun dan merasa biasa saja.
Harga yang Harus Dibayar
Setiap pilihan punya konsekuensi. Queenie membayar mahal untuk gelarnya.
Waktu untuk keluarga berkurang. Tawa yang dulu spontan kini terasa dibuat-buat. Ia jarang menikmati momen tanpa memikirkan penilaian orang lain. Semua harus terlihat sempurna.
Yang ironis, semakin ia berusaha terlihat kuat, semakin rapuh ia di dalam. Ia kelelahan, tapi tidak berani berhenti. Ia takut jika berhenti, orang lain akan mengambil tempatnya.
Momen Kesadaran
Perubahan tidak datang karena kemenangan besar. Perubahan sering datang dari kelelahan yang memuncak.
Suatu hari, Queenie menyadari bahwa ia tidak lagi tahu siapa dirinya tanpa gelar itu. Jika mahkota dilepas, apa yang tersisa? Pertanyaan itu mengguncangnya.
Ia mulai melihat bahwa hidup bukan perlombaan tanpa garis akhir. Tidak ada manusia yang bisa terus berada di puncak tanpa jeda. Turun bukan berarti gagal. Kadang, itu bagian dari siklus.
Belajar Menerima Batas
Queenie perlahan belajar menerima bahwa menjadi manusia berarti punya batas. Ia mulai memberi ruang untuk istirahat. Ia mulai menerima bahwa orang lain juga berhak bersinar.
Ini bukan tentang menyerah. Ini tentang mengubah alasan. Dari ingin membuktikan menjadi ingin berkembang. Dari takut kalah menjadi berani belajar.
Saat ia melepaskan obsesi untuk selalu jadi satu-satunya ratu, beban di bahunya terasa lebih ringan. Anehnya, justru di saat itu ia merasa lebih kuat.
Kesimpulan
“Queenie: Menderita Pengen Jadi 1 Ratu Terus Deh!” adalah gambaran tentang ambisi yang berubah menjadi tekanan. Keinginan untuk selalu berada di puncak bisa menjadi motivasi, tapi juga bisa menjadi sumber penderitaan jika tidak diimbangi kesadaran diri.
Menjadi ratu bukanlah masalah. Masalah muncul ketika identitas sepenuhnya bergantung pada posisi tersebut. Tidak ada yang salah dengan ingin unggul. Namun, jika ketakutan menguasai arah langkah, kemenangan tidak lagi terasa manis.
Hidup bukan hanya soal siapa yang berdiri paling tinggi, tapi juga siapa yang tetap utuh di dalamnya. Kadang, melepaskan mahkota sejenak bukan berarti kalah. Itu bisa jadi cara untuk menemukan diri yang sesungguhnya.

